Jumat, 03 November 2017

TANAM PADI JAJAR LEGOWO


PENDAHULUAN


Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang.

Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanpulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.


                                     Beberapa Tipe Sistem Tanam Tajar Legowo

1)      Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
2)      Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
3)      Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua   kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya.


Manfaat dan Tujuan Sistem Jajar Legowo

Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah sebagai berikut :

ü  Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 % yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro.
ü  Dengan adanya baris kosong akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong/lorong.
ü  Mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama hama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya dan dengan lahan yang relatif terbuka kelembaban juga akan menjadi lebih rendah sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
ü  Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.
ü  Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir.
ü  Semakin banyak intensitas sinar matahari yang mengenai tanaman maka proses metabolisme terutama fotosintesis tanaman yang terjadi di daun akan semakin tinggi sehingga akan didapatkan kualitas tanaman yang baik ditinjau dari segi pertumbuhan dan hasil


Teknik Penerapan

a. Pembuatan baris tanam
Lahan sawah yang sudah siap ditanami, 1–2 hari sebelum tanam air dibuang sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Tujuan air dihilangkan adalah untuk dapat membentuk garis-garis tanam secara jelas. Dengan menggunakan alat pembuat garis jajar legowo 2 : 1 (Atajale 2 : 1), dibuat garis tanam 40 cm x ( 20 cm x 10 cm) dengan cara menarik atajale pada lahan yang akan ditanami. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air pengairan.

b. Tanam
Bibit padi umur kurang dari 21 hari sebanyak    1-2 bibit ditanam pada perpotongan garis-garis yang terbentuk, dengan cara maju atau mundur sesuai kebiasaan regu tanam



Teknik Pemeliharaan Tanaman

a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan secara alur pada tempat yang berjarak 20 cm dan posisi yang memupuk pada tempat yang berjarak 40 cm. Dengan cara ini hanya 40 % dari lahan yang diberi pupuk dan pupuk  terkosentrasi sepanjang tempat yang berjarak 20 cm, serta pupuk lebih dekat denga perakaran sehingga dapat dimamfaatkan oleh tanaman secara maksimal.

b.  Penyiangan
Pada cara tanam ini penyiangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan landak/osrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan dan tidak perlu dipotong sepertimpada cara tanam bujur sangkar (2 arah). Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 50 %.

c. Pengendalian Hama dan Penyakit
Adanya lorong-lorong yang berjarak 40 cm sinar matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan optimal dan kelembaban dapat ditekan sehingga perkembangan hama/penyakit dapat diminimalisir. Disamping itu, kegiatan pemamtauan dan pelaksanaan pengendalian penyakit dapat lebih mudah dilaksanakan.



Menghitung peningkatan populasi

Untuk menghitung peningkatan populasi dengan sitem tanam jajar legowo bisa menggunakan rumus :  100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo).

contoh:

Ø  untuk legowo 2:1 peningkatan populasinya adalah 100%  X  1 : (1 + 2) = 30%
Ø  untuk legowo 3:1 peningkatan populasinya adalah 100%  X  1 : (1 + 3) = 25%
Ø  Untuk legowo 4:1 peningkatan popuasinya adalah 100%  X  1 :  (1 + 4) = 20%
Ø  Untuk legowo 5:1 peningkatan popuasinya adalah 100%  X  1 :  (1 + 5) = 16,6%

Oleh : Wiwik Hayeweyah, SP

Selasa, 31 Oktober 2017

BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN LEBAK

Budidaya Kedelai Di Lahan Lebak 

Kedelai di Indonesia dipandang sebagai salah satu komoditas pangan strategis, kebutuhan kedelai setiap tahunnya cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan berkembangnya pabrik pakan ternak. Permintaan kedelai terus meningkat sementara lahan pertanian terus menurun akibat adanya alih fungsi lahan pertanian, sehingga produksi kedelai tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dengan mengandalkan impor dapat menyebabkan ketahanan pangan rentan dan berdampak terhadap berbagai aspek, terutama ekonomi, sosial dan politik

Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk meningkatkan produksi pangan, yang dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam ke lahan suboptimal, seperti lahan sawah tadah hujan, lahan kering, lahan pasang surut, dan penigkatan indek pertanaman. Dalam hal ini diperlukan inovasi teknologi yang mampu meningkatkan dan menstabilkan produktivitas tanaman pangan secara berkelanjutan Salah satu trategi yang ditempuh dalam upaya mencapai swasembada padi, jagung dan kedelai adalah melalui penyediaan benih bermutu varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Ketersediaan benih berkualitas dengan jumlah cukup, tepat waktu, dan mudah diperoleh petani memegang peranan penting, dalam hal ini tidak terlepas dari peranan para penangkar benih yang cukup besar. Penyediaan benih sumber yang berkelanjutan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dan ini merupakan langkah awal untuk untuk pengembangan varietas unggul baru. Untuk itu diperlukan pembinaan terhadap petani lokal penangkar benih, termasuk salah satunya adalah pembinaan terhadap teknik bududaya benih yang tepat /spesifik lokasi dan pasca panennya. Khusus untuk lahan lebak, teknik budidaya benih kedelai dan pasca panennya adalah sbb.

Tenik Budidaya

Lahan lebak dikelompokan menjadi tiga, yaitu
(1) lebak dangkal/pematang ,
(2) lebak tengahan, dan
(3) lebak dalam.

Pembagian ini memiliki arti penting karena masing-masing tipologi lahan dan tipe luapan air memilik kendala spesifik sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan tersendiri. Lahan rawa lebak dangkal dan tengahan dapat ditanami dengan pola tanam padi-padi atau padi-palawija, sedang pada lahan lebak dalam hanya dengan padi-padi.

Paket teknologi kedelai pada lahan lebak dangkal dan tengahan sbb

  1. Lahan disiapkan secara tanpa olah tanah. Setelah padi di panen, jerami dipotong dekat dengan permukaan tanah, jerami dapat digunakan untuk pakan ternak, mulsa atau dibakar untuk tambahan sumber hara K, Si, dll
  2. Varietas yang digunakan disesuaikan dengan kondisi agorekologi dan preferensi pasar
  3. Benih yang digunakan bernas memilki daya tumbuh >85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40-60 kg/h, tergantung pada ukuran biji; semakin besar ukuran biji makin banyak benih dibutuhkan
  4. Benih sebelum ditanam dicampur dengan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau fipronil (10 ml Reagent/kg benih) untuk mengendalikan lalat bibit.
  5. Perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium 40 g/8 kg benih, diberikan pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai
  6. Jarak tanam 40x15 cm dan 40x10 cm, dua tanam/lubang
  7. Saluran drainase dengan jarak antara 5-6 m, berukuran lebar sekitar 40 cm dan dalam sekitar 60 cm.
  8. Ameliorasi tanah diperlukan untuk memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman kedelai menggunakan kapur pertanian atau dolomite.
  9. Jenis dan takaran pupuk yang diberikan dapat berbeda tergantung pada kesuburan tanah. Jika tersedia pupuk organic atau pupuk kandang, dianjurkan diberikan dengan dosis sekitar 2 t/ha
  10. Gulma dikendalikan secara intensif secara manual atau dengan menggunakan herbisida.
  11. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) mengikuti cara PHT (Pengendalian Hama Terpadu)
  12. Panen dilakukan apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-coklat atau coklat-kehitaman (tergantung varietas).
  13. Pembijian kedelai dapat dilakukan secara manual (sistem geblok, pemukul kayu) maupun secara mekanik yaitu dengan mesin perontok


Pasca panen

Benih kedelai sering diposisikan sebagai kelompok benih dengan masa simpan pendek. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan khususnya pada fase pasca panen, sebagai fase paling kritikal dalam proses produksi benih kedelai, adalah sbb.

  1. Panen dilakukan pada saat yang tepat, yaitu jika sekitar 90% polong telah berwarna coklat atau daun telah menguning.
  2. Brangkasan segera dikeringkan setelah panen atau paling lambat ditunda pengeringannya selama 2 hari.
  3. Pengeringan brangkasan menggunakan alas jemur dengan ketebalan brangkasan maksimum setinggi 25 cm.
  4. Pembijian dapat dilakukan dengan menggunakan pemukul (tongkat kayu) dan dilakukan pada saat brangkasan telah kering atau setelah dijemur sekitar 3 hari.
  5. Penjemuran benih menggunakan alas jemur dan dilakukan secara hati-hati hingga kadar air mencapai 9-10%.
  6. Penyimpanan benih dilakukan pada saat kadar air benih 9-10% dan menggunakan wadah plastik kedap udara, dengan cara ini benih dapat disimpan sampai 6 bulan.
  7. Kombinasi penyimpanan dalam wadah plastic kedap udara dan disimpan pada ruang ber-AC (kelembaban 6% dan suhu 20-21ºC) mampu menyimpan benih 8-9 bulan. Pengaruh kadar air terhadap daya simpan benih lebih besar dibanding pengaruh perubahan temperatur.
(Oleh : AGUS TRIYONO, SP)

BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN KERING

Budidaya Kedelai Di Lahan Kering 


Kedelai di Indonesia dipandang sebagai salah satu komoditas pangan strategis, kebutuhan kedelai setiap tahunnya cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan berkembangnya pabrik pakan ternak. Permintaan kedelai terus meningkat sementara lahan pertanian terus menurun akibat adanya alih fungsi lahan pertanian, sehingga produksi kedelai tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai dengan mengandalkan impor dapat menyebabkan ketahanan pangan rentan dan berdampak terhadap berbagai aspek, terutama ekonomi, sosial dan politik.

Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk meningkatkan produksi pangan, yang dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam ke lahan suboptimal, seperti lahan sawah tadah hujan, lahan kering, lahan pasang surut, dan penigkatan indek pertanaman. Dalam hal ini diperlukan inovasi teknologi yang mampu meningkatkan dan menstabilkan produktivitas tanaman pangan secara berkelanjutan Salah satu trategi yang ditempuh dalam upaya mencapai swasembada padi, jagung dan kedelai adalah melalui penyediaan benih bermutu varietas unggul yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Ketersediaan benih berkualitas dengan jumlah cukup, tepat waktu, dan mudah diperoleh petani memegang peranan penting, dalam hal ini tidak terlepas dari peranan para penangkar benih yang cukup besar. Penyediaan benih sumber yang berkelanjutan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dan ini merupakan langkah awal untuk untuk pengembangan varietas unggul baru. Untuk itu diperlukan pembinaan terhadap petani lokal penangkar benih, termasuk salah satunya adalah pembinaan terhadap teknik bududaya benih yang tepat /spesifik lokasi dan pasca panennya. Khusus untuk lahan kering, teknik budidaya benih kedelai dan pasca panennya adalah sbb.


Tehnik Budidaya

Lahan kering dipilahkan menjadi dua kelompok besar, yaitu lahan kering tidak masam dan lahan kering masam.

Pola tanam di lahan kering diantaranya adalah:
(1) kedelai - kedelai - bera,
(2) padi gogo - kedelai,
(3) jagung - kedelai - tembakau,
(4) kedelai - kedelai - kacang-kacangan lainnya.

Pada pertanaman musim hujan pertama MH I (Oktober - Januari) dianjurkan menggunakan varietas umur sedang, dan pertanaman pada musim marengan atau MH II (Februari – Mei) dapat dipilih umur sedang atau genjah.

Paket teknologi budidaya kedelai terdiri dari komponen sbb.

  1. Tanah dibajak 1 – 2 kali, kemudian digaru 1 kali untuk meratakan permukaan tanah 
  2. Saluran drainse dibuat dengan jarak antar saluran 3-5 m berukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Jarak antar saluran drainase dapat diperapat sesuai dengan jenis tanah dan kemiringan lahan. Pada lahan bertekstur halus (tanah berat) dan bertopografi datar, jarak antar saluran drainase perlu diperapat.
  3. Varietas yang digunakan disesuaikan dengan kondisi agroekologi dan preferensi petani dan pasar
  4. Penggunaan benih berkualitas, bernas memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40-60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji; makin besar ukuran biji makin banyak benih yang dibutuhkan.
  5. Perlakuan benih dengan corsulfan ( 10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau fipronil (10 ml Regent/kg benih) untuk mengendalikan lalat bibit atau dengan insektisida lainnya.
  6. Perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, dengan dosis 40g sumber rhizobium /8kg benih.
  7. Pada tanah yang subur dan cukup air/ hujan, jarak tanam 40 x 15 cm dua tanaman/lubang, dan pada tanah yang kurang subur dan air/hujan terbatas, jarak tanam 40 x 10 cm dua tanaman/lubang.
  8. Pada lahan kering masam dengan kejenuhan Al lebih dari 20%, dianjurkan tanah diberi pupuk dolomit/kapur untuk menurunkan kejenuhan Al tanah hingga mencapai batas toleransi tanaman kedelai yaitu 20% sekaligus sebagai sumber hara Ca dan Mg
  9. Jenis dan takaran pupuk bergantung pada tingkat kesuburan tanah. Pupuk organik atau pupuk kandang jika tersedia dapat diberikan sekitar 2 ton/ha sebagai penutup lubang tanaman.
  10. Gulma dikendalikan secara intensif, dapat secara mekanis maupun menggunakan herbisida pratumbuh maupun pasca tumbuh.
  11. Pengendalian hama dan penyakit berdasarkan petunjuk teknis PHT (Pengendalian Hama Terpadu).
  12. Tanaman dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman (terantung varietas)) dilakukan secara konvensional dengan sabit.
  13. Pembijian dapat dilakukan secara manual (sistem geblok, pemukul kayu) atau secara mekanis menggunakan mesin perontok.


Pasca panen

     Benih kedelai sering diposisikan sebagai kelompok benih dengan masa simpan pendek.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan khususnya pada fase pasca panen, sebagai fase paling kritikal dalam proses produksi benih kedelai, adalah sbb.

  1. Panen dilakukan pada saat yang tepat, yaitu jika sekitar 90% polong telah berwarna coklat atau daun telah menguning.
  2. Brangkasan segera dikeringkan setelah panen atau paling lambat ditunda pengeringannya selama 2 hari.
  3. Pengeringan brangkasan menggunakan alas jemur dengan ketebalan brangkasan maksimum setinggi 25 cm.
  4. Pembijian dapat dilakukan dengan menggunakan pemukul (tongkat kayu) dan dilakukan pada saat brangkasan telah kering atau setelah dijemur sekitar 3 hari.
  5. Penjemuran benih menggunakan alas jemur dan dilakukan secara hati-hati hingga kadar air mencapai 9-10%.
  6. Penyimpanan benih dilakukan pada saat kadar air benih 9-10% dan menggunakan wadah plastik kedap udara, dengan cara ini benih dapat disimpan sampai 6 bulan
  7. Kombinasi penyimpanan dalam wadah plastic kedap udara dan disimpan pada ruang ber-AC (kelembaban 6% dan suhu 20-21ºC) mampu menyimpan benih 8-9 bulan. Pengaruh kadar air terhadap daya simpan benih lebih besar dibanding pengaruh perubahan temperatur. 
(Oleh : AGUS TRIYONO, SP)